Beranda
   Weblog bung Aswin
   Kliping Berita
   Peraturan
   Bahan_Kuliah
   Dissertation
   01_Profil_Aswin
   Kuliah_Komputer
   Balanced_Scorecard
   Pustaka
   Pilkada_Kukar
   ESQ
   Bea_Siswa
   Dari_Belanda
   Qur'an_Hadist
   04_Profil_Azwar
   03_Profil_Akbar
   05_Profil_Amalia
   06_Profil_Affan
   02_Profil_Ny_Aswin
   Forum Konsultasi
   A r t i k e l
   Galeri Foto
   Isi Buku Tamu
   Lihat Buku Tamu

 

 

 

   


Pak Hartoku, Pak Hartomu, Pak Harto Kita


tempointeraktif.com - 27 January 2008 23:10:15 WITA
Kolom A. Mustofa Bisri, dalam tempointeraktif.com tanggal 17 Januari 2008 baik sekali di simak saat Pak Harto meninggal dunia pada hari ini, saya tertarik untuk mengetengahkannya disini untuk dibaca pembaca setia kami. Selamat membaca.

Ketika para petinggi di atas kelihatan bingung, mau melengserkan Pak Harto, kok, tidak sopan, apalagi kelihatannya Pak Harto masih segar dan mau, saya menulis di sebuah harian terkenal dengan judul "Seandainya Pak Harto Kerso". Tulisan saya itu mengusulkan agar Pak Harto kerso, mau, jadi Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat saja.

Maksud saya, dengan menjadi Ketua MPR, Pak Harto tidak turun pangkat, tapi malah naik: dari mandataris MPR menjadi Ketua MPR, pemberi mandat. Sekaligus siapa tahu Pak Harto, yang diyakini banyak orang merupakan tokoh terkuat Indonesia, dapat menularkan kekuatannya kepada wakil-wakil rakyat yang diyakini banyak orang sangat lemah. Lagi pula, sebagai Ketua MPR, Pak Harto masih bisa "mengatur".

Tapi, boleh jadi Pak Harto lupa--sebagaimana umumnya orang--bahwa MPR ketika itu adalah lembaga tertinggi negara atau ia merasa enggan menduduki kursi yang bekas diduduki kacungnya. Atau--ini yang lebih mungkin--Pak Harto tidak membaca tulisan saya. Seandainya Pak Harto benar-benar mau menjadi Ketua MPR, dan ini sangat mudah merekayasanya waktu itu, mungkin sampai sekarang masih selamat. Tidak dijadikan bulan-bulanan dan hujatan, termasuk oleh mereka yang kemarin bergelung nikmat di balik ketiak kekuasaannya.

Allahu Akbar! Wolak-walik-nya zaman! Rasanya baru kemarin orang-orang berteriak hanya untuk mendukung atau diam karena takut. Wakil rakyat tidak mewakili rakyat, tapi pemerintah (baca Pak Harto); digaji besar untuk hanya mengatakan "ya" atawa diam. Pers pun semuanya tiarap. Bahkan membela sesama tidak punya nyali, apalagi membela kepentingan orang banyak.

Allah Mahabesar! Reformasi telah membalik semuanya. Semuanya kini berbalik. Mereka yang dulu sakit gigi, kini mendadak sembuh dan setiap hari memamerkan gigi-gigi mereka. Mereka yang kemarin tiarap, kini seperti sudah lama bangkit. Bahkan ada yang berbalik pada detik paling akhir; dari menjilat Pak Harto berbalik--sedetik kemudian--meludahinya.

***

Di atas itu adalah pandangan saya di awal-awal reformasi, ketika "burung baru saja terlepas dari sangkar", ketika euforia keterbukaan melanda negeri, dan pers nasional seperti kemaruk setelah sekian lama tiarap.

Kini pers dan murid-murid Pak Harto kembali "membangunkan"-nya justru dari rumah sakit tempat jenderal besar itu terkapar. Saat ini seolah-olah Pak Harto masih presiden dan yang lain, seperti di zaman kejayaannya, hanyalah boneka gagu yang tidak punya pekerjaan kecuali menunggu sabdanya. Diamnya pembina Golkar itu saat ini mungkin dikira sama dengan diamnya dulu waktu masih berkuasa. Diam yang membuat orang sekelilingnya deg-degan dan ketar-ketir.

Untuk meramaikan suasana "kebangkitan" arsitek Orde Baru itu, dagelan soal status hukumnya pun diwacanakan lagi. Terus diadili atau dimaafkan. Seolah-olah bangsa ini memang serius menegakkan keadilan. Seolah-olah di negeri ini, hukum masih sangat dihormati. Seolah-olah kita semua bukan santri teladan Hadhratussyeikh Haji Muhammad Soeharto.

Orang lupa kepada falsafah Jawa yang sangat diagungkan oleh pemimpin agung kita itu: mikul dhuwur mendhem jero, mengangkat martabat orang tua setinggi-tingginya. Kalau benar kita mengakui Pak Harto sebagai orang tua kita dan kita benar-benar mencintainya, kita mesti berusaha mengangkat martabatnya; tidak hanya di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak.

Ketika orang berbicara mengenai status hukum Pak Harto, orientasinya selalu hanya dunia yang notabene akan ditinggalkan tidak hanya oleh Pak Harto sendiri. Taruh kata Pak Harto dimaafkan atau dibebaskan dari pengadilan dunia ini, apakah tidak terpikir oleh kita sebagai "anak-anak"-nya yang percaya kepada akhirat bahwa di sana masih ada pengadilan. Pengadilan yang pasti jauh lebih adil. Pengadilan yang pasti steril dari korupsi-kolusi-nepotisme dan sogok-menyogok. Lalu?

Ya, siapa saja yang mengaku cinta dan ingin yang terbaik untuk Pak Harto mesti berpikir panjang hingga akhirat. Yang terbaik untuk Pak Harto di akhirat tentulah apabila amal-amalnya diterima dan dosa-dosanya diampuni oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Adil.

Untuk itu, siapa saja yang mengaku mencintai Pak Harto mesti berusaha ke arah sana dengan memohon kepada Allah agar amal-amalnya diterima. Yang lebih penting lagi, bagaimana agar dosa-dosa Pak Harto diampuni. Ini tidak cukup hanya dengan memohonkan ampun kepada Allah. Sebab, ada dosa manusia yang berkaitan dengan hak-hak sesama yang tidak akan diampuni oleh Allah sebelum yang bersangkutan menyelesaikannya di dunia ini.

Kalau seseorang pernah, misalnya, menyakiti saudaranya, ya, saudaranya itu harus dimintai maaf. Kalau seseorang pernah memakan hak orang lain, ya, harus dimintakan ikhlas atau ditebus sehingga orang yang bersangkutan mengikhlaskan. Demikian seterusnya, sampai tidak ada lagi ganjalan terhadap sesama.

Jadi, demi keselamatan Pak Harto di akhirat, persoalannya dengan sesama mestilah diselesaikan di dunia ini. Mudah-mudahan dengan demikian Bapak Pembangunan kita itu husnul khaatimah, tidak hanya bahagia ketika hidup di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Amin.

*) A. Mustofa Bisri, Kolumnis, Penyair, dan Pengasuh


Tenggarong, 27 January 2008

ArtikelSebelumnya:

Mengapa saya berhari raya hari Sabtu ?
13 October 2007 22:48:34 WITA


"62 Tahun Kemerdekaan Indonesia, Pergulatan Peran HMI"
20 August 2007 00:55:36 WITA


Analisis Politik : Berharap dari Silaturahmi Golkar-PDI-P
27 June 2007 01:13:15 WITA


Aklamasi atau Voting serta Qourum Rapat ditentukan usulan FRAKSI GOLKAR
05 May 2007 19:27:29 WITA


Dahri Yasin, SH Menyalahkan sekaligus Mempertahankan Pimpinan DPRD Kukar
30 April 2007 09:37:49 WITA


SETELAH APBD DISETUJUI BERSAMA, KITA LEMBUR LAGI ? DPA-SKPD (DASK) disampaikan ke BPK awal tahun !
30 November 2006 23:50:28 WITA


Langkah Cepat Menguasai Isi Buku
20 November 2006 22:20:50 WITA


Balanced Scorecard: Sebuah Peta untuk Penyelarasan Perusahaan
19 November 2006 00:38:21 WITA


Menuju Efisiensi Demokrasi
18 November 2006 00:38:57 WITA


Ujian Politik Partai Golkar
09 November 2006 03:42:09 WITA


MIMPI SATU ATAP
08 November 2006 00:28:07 WITA


Idul Fitri, Kemenangan (untuk Siapa?)
23 October 2006 22:41:21 WITA


Bea Siswa 2004 dari Pemprov. Kaltim dan sebuah Arogansi
04 June 2006 10:54:31 WITA


Perkuat Koneksitas, Guna Revitalisasi Diri, Sekolah dan Pembangunan Daerah
29 May 2006 00:36:16 WITA


RAPBD di masa Transisi PP 58/2005.
06 May 2006 15:57:52 WITA


Dampak Desentralisasi Fiskal terhadap Kinerja Pemerintah Kabupaten/Kota
25 November 2005 00:46:31 WITA


REAKTUALISASI PERAN PEMUDA MENYONGSONG PILKADA DI KUTAI KARTANEGARA
06 April 2005 02:16:55 WITA


Belanja Aparatur dan Belanja Pelayanan Publik
26 Maret 2005 01:05 WITA


Rakyat dan Wakil Rakyat Kutai Kartanegara
04 Maret 2005 04:17 WITA


Pilkada dan Pembajakan Demokrasi
28 Pebruari 2005 03:12 WITA


Google
 
Web bung-aswin.com

 



 Pustaka Gratis

 Journal UMS

 Yahoo Indonesia

 Indonesia Headline

 Koran Kaltim

 Prakiraan Cuaca

 Antara

 Google Indonesia

 Acara TV

 BBC London

 Kurs Mata Uang

 BPK

 Universitas Brawijaya

 Businessweek Technology

 Detik.com

 Desentralisasi Fiskal

 DPRD Kutai Kartanegara

 ESQ Information

 GSICS KOBE UNIVERSITY

 GTZ Kerjasama Indonesia_Jerman

 Harvard Business School

 Teknologi Baru

 HMI_News.com

 INILAH.COM

 Kaltim Post

 Kompas

 KPK

 KutaiKartanegara.com

 PERATURAN

 LIPUTAN 6 SCTV

 Lembaga Survey Indo

 Baca Koran Tabloid

 Media Indonesia

 Jadwal Shalat

 Pembelajar.com

 RSU AM PARIKESIT

 Ruang Baca

 Samarinda Pos

 Info Media SDA Asia OL

 Tempo Interaktif

 The Jakarta Post

 Tribun Kaltim

 Universitas Kutai Kartanegara

 Universitas Mulawarman

 Universitas Jend. Soedirman

 Balanced Scorecard

 

 

 

:: Copyright © 2005 Bung-Aswin.com ::

login